Saling berbagi dan menebar hikmah. Semoga catatan-catatan di blog ini bermanfaat. Salam ukhuwah fillaah. ^_^
RSS
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Kau Kutemukan


Kemarin aku melihatmu dengan seulas senyum seperti yang sering kusaksikan sebelumnya.
Serupa mentari yang mampu berpendar indah di pagi nan merekah.
Aku tak hendak mengganggu kedamaianmu dari langkah yang sedang kau tapaki.


0 komentar

"Monita" dan Taman Raflesia
















Ada kerinduan yang tak terbilang angka.
Seusai masa disaat penuh haru dan tawa.
5 tahun adalah angka yang kita sepakati untuk menaruh bunga-bunga cinta kembali.

0 komentar

Mata Cinta Nabila











Januari, pada subuh yang kurasa baru dua jam yang lalu
Teduh hati saat sebuah pesan telah kukirim untukmu
Tanpa malu, kusampaikan bulatnya azamku untuk meminangmu
Pada kawan yang menyertaimu sore itu

1 komentar

Untukmu Sang Pengantin


Merona wajah nan berbinar bintang
Pancaran bahagia mengangkasa cinta
Menyerbak sewangi taman syurgawi
Semilir mewangi bunga melati
Tercium aroma kasih peraduan pengantinmu
Jernih mengalir lantunan doa para tetamu
Terpancar harap di celah hati yang iri padamu

Baarokallahu lakumaa wa baaroka alaikumaa
Wa jama’a bainakumaa fii khoir

Bunga senyummu
Semekar indah pelaminanmu


0 komentar

Sepucuk Bisik Rindu



Mega kunanti dalam senja

Saat bayangan menggoda

Kutegarkan dalam doa
0 komentar

Sedamai Subuh


Sedamai subuh ini

Tegar merayap ke rongga-rongga sepi

Ada kekuatan yang mengantarkan api-api harapan

Sepucuk surat kuantarkan pada tetes embun kerinduan

Tangan memunguti daun-daun yang jatuh

Biar ku daur ulang menjadi segenggam arang

Lalu kulukis kerinduan
0 komentar

Mabuk Kata




Malam  ini ku mabuk kata, Nona

Biar kutumpahkan semua

Sampai di sudut-sudut kamar penuh mesra

Aku telah menemukan kembali nafasku

Detak nadiku yang hampir beku

Saat pilu menggerogoti qolbu


Ini aku pengelana aksara baru

Mencari makna yang termaktub dalam sajak rindu

Kuremas selembar episode kelabu

Melupakanmu dan mencinta-Nya selalu
0 komentar

Malam Tanpa Kunang-Kunang




Malam begitu tenang, 
namun kunang-kunang tak pernah lagi bertandang
Apakah buritan jagad raya meranjaunya hingga hilang?
Oh, tak ada lagi si cahaya terang yang terbang
Aku hanya mengulum melodi rindu
Kecipak gerimispun tak lekas menghiburku
Meski beku, kulafalkan syukur dalam sujudku
Dalam remang malam tanpa kunang-kunang terbang
0 komentar

Selendang Cinta




Ada nuansa yang hendak kupahat pada sebongkah batu
Namun jariku tak kuasa membelah pori-porinya
Yang ada hanya goresan luka menjalar pada telapak
Tetes demi tetes darah mengotori lapak yang hendak kujadikan alas
Aku tertegun,

Lalu kubalut saja dengan selendang yang Tuhan tawarkan
Ya, selendang cinta bermotif keimanan
Terberai angin melambaikannya
Darah terhenti walau masih meninggalkan jejak tersayat
Berapa ayat-Nya yang belum aku lafadzkan hari ini?
Setitik noktah menghancurkan bayangan masa nanti
Tiada lirik hujan malam ini yang kuasa ku genggam
Sebatas nyanyian kalam di penghujung malam
...
Malam ini aku hanya ingin bercengkrama dengan Tuhan
Rindu menusuk jantung yang hampir lelah berdetak
Uraian hikmah yang telah ku titi, membendung, membentuk telaga berkah
Namun Diri tak mampu melihat gelembung yang terhampar di setiap celah bebatuan
Mungkin saja itu sumber kehidupan yang menuntun pada nafas-nafas syurgawi
berselendangkan kesabaran
bermahkota keikhlasan
semua yang Tuhan tawarkan
Terpasung nuraniku dalam dekapan cahaya nan redup
Kumerangkak
mencari celah tak berwarna
namun berpancar keheningan disudut jiwa
Biar ku tenang dipenghujung usia.
0 komentar

Sapaku pada semesta



Image: Nika Anika
Tuhan masih berkenan kumenebar sapa 
dan melukis semesta dimata cinta kehidupan
Saat duka tak mengenalku

biarkan aku berkelama bersama serdadu-serdadu kata 

yang ingin kurangkai bersamamu,
Semoga ada hikmah baru di setiap nafas 
antara mentari dan senja
0 komentar

Pagiku Bercerita




Pagiku bercerita.
Tentang aku, kau dan mereka.
Dibawah mentari yang mengantarkan kedamaian jiwa.
Ceritanya pasti akan berbeda andai kau tak hadir dalam hidupku.
Latar pun kan berbeda andai kau tak singgah dilapak hatiku.
Bahasanya pun kan berbeda andai kau tak pernah ajariku kata.
Tuhan hadirkan dirimu warnai hariku.
Tuhan taburkan cinta diladang tandus tempat aku, kau dan mereka bertanam senyuman.
Serupa desiran hujan yang menyirami ketandusannya.
Maka, tak ada alasan kita melupakan-Nya.
Tak ada alasan mencintai yang melebihi cinta pada-Nya.
Tak ada alasan untuk berpaling dari-Nya.
Karena Dia adalah cinta hakiki aku, kau, mereka dan kita semua.
0 komentar

Sepotong Rembulan (Puisi)



Ini malam belum berakhir
Mengapa kau bersembunyi di balik pekat?
Ini malam belum berakhir
Mengapa tiada seri seumpama purnama?
Pantulan wajah itu bergoyang-goyang
Di atas kolam sunyi tanpa kumang ataupun ikan
Bergoyang diterpa lembut angin semilir
Tersenyum pada sepotong rembulan
Tepat seperti di atas kepala
Yang ingin bercerita tentang keabadian cinta.
0 komentar