My notes
Label: Mutiara kata
#
Selalu ada harapan dalam keyakinan, selalu ada keteguhan dalam kesabaran, selalu ada hikmah dalam kesyukuran dan selalu ada keniscayaan dalam doa.
#
Tidakkah kau merindukan, saat cahaya iman berpendar dalam setiap sendi kehidupanmu?
Bukankah itu sesuatu yang perlu diperjuangkan?
Lalu dengan alasan apa kau berdiam diri?
Seolah tak peduli dengan jiwa yang teramat beku itu.
Kemarilah, kita sama-sama meraih cahaya itu.
Aku dan kau pasti merindui, saat dimana nasehat menjadi penyemangat,
Aku dan kau pasti merindui, saat senyum menjadi obat.
Aku dan kau pasti merindui, saat dimana kain lebar membalut auratmu dengan indahnya.
Kemarilah, kita sama-sama meraih kembali hidayah yang hampir hilang itu.
Kemarilah, bersama merengkuh rindu.
Merengkuh cinta yang mungkin telah lama dilupa
Mengucap do'a
Meski kita berada di tempat yang berbeda
0
komentar
Selalu ada harapan dalam keyakinan, selalu ada keteguhan dalam kesabaran, selalu ada hikmah dalam kesyukuran dan selalu ada keniscayaan dalam doa.
#
Tidakkah kau merindukan, saat cahaya iman berpendar dalam setiap sendi kehidupanmu?
Bukankah itu sesuatu yang perlu diperjuangkan?
Lalu dengan alasan apa kau berdiam diri?
Seolah tak peduli dengan jiwa yang teramat beku itu.
Kemarilah, kita sama-sama meraih cahaya itu.
Aku dan kau pasti merindui, saat dimana nasehat menjadi penyemangat,
Aku dan kau pasti merindui, saat senyum menjadi obat.
Aku dan kau pasti merindui, saat dimana kain lebar membalut auratmu dengan indahnya.
Kemarilah, kita sama-sama meraih kembali hidayah yang hampir hilang itu.
Kemarilah, bersama merengkuh rindu.
Merengkuh cinta yang mungkin telah lama dilupa
Mengucap do'a
Meski kita berada di tempat yang berbeda
Catatan Penulis Kacangan
Label: Essay
Oleh : Maya N.
Kesan Pertama
Menulis menjadi teman
sekaligus menjadi tempat “sampah” segala unek-unek dalam hati dan pikiran.
Pertamanya, wuih… gak hobi banget dengan yang namanya menulis, selain memang
karena penyakit kronis yang disebut males, tulisan tanganku pun gak ada
model-modelnya gitu, jadi empet aja kalo liat tulisan sendiri.
Dakwah Itu....
Label: Dakwah, Tarbawi
Dakwah
Itu……………………
Dakwah itu, membina, bukan menghina…
Dakwah itu, mendidik, bukan 'mendelik'…
Dakwah itu, mengobati, bukan melukai
Dakwah itu, mengukuhkan, bukan meruntuhkan…
Dakwah itu, menguatkan, bukan melemahkan…
Dakwah itu, mengajak, bukan mengejek…
Dakwah itu, menyejukkan, bukan memojokkan..
Dakwah itu, mengajar, bukan menghajar....
Dakwah itu, belajar, bukan kurang ajar ..
Dakwah itu, menasehati, bukan mencaci maki…
Dakwah itu, merengkuh, bukan menuduh...
Dakwah itu, bersabar, bukan gusar…
Dakwah itu, argumentative, bukan provokatif..
Dakwah itu, bergerak cepat, bukan sibuk berdebat…
Dakwah itu, realistis, bukan fantastis
Dakwah itu, adu konsep di dunia nyata, bukan adu mulut dan olah kata.
Dakwah itu, mencerdaskan, bukan mencemarkan…
Dakwah itu, menawarkan solusi, bukan mengumbar janji...
Dakwah itu, berlomba dalam kebaikan, bukan berlomba saling menjatuhkan..
Dakwah itu, menghadapi masyarakat, bukan membelakangi masyarakat...
Dakwah itu, memperbarui masyarakat, bukan membuat masyarakat baru..
Dakwah itu, mengatasi keadaan, bukan meratapi kenyataan…
Dakwah itu, pandai memikat, bukan mahir mengumpat
Dakwah itu, menebar kebaikan, bukan mengorek kesalahan...
Dakwah itu, menutup aib dan memperbaikinya, bukan mengumpat aib dan menyebarkannya..
Dakwah itu, menghargai perbedaan, bukan memonopoli kebenaran..
Dakwah itu, apresiasi terhadap langkah positif, bukan mencari-cari motif….
Dakwah itu, mendukung semua proyek kebaikan, bukan memunculkan keraguan..
Dakwah itu, memberi senyum manis , bukan menjatuhkan vonis…
Dakwah itu, berletih-letih menanggung problema umat, bukan meletihkan umat…
Dakwah itu, menyatukan kekuatan, bukan memecah belah barisan..
Dakwah itu, kompak dalam perbedaan, bukan ribut atas nama persatuan…
Dakwah itu, menghadapi musuh, bukan mencari musuh…
Dakwah itu, mencari teman, bukan memusuhi teman…
Dakwah itu, melawan kesesatan, bukan berbicara menyesatkan…
Dakwah itu, menjulurkan tangan, bukan menjulurkan lidah…
Dakwah itu, asyik dengan kebersamaan, bukan bangga dengan kesendirian…
Dakwah itu, menampung semua lapisan, bukan mengkotak-kotakkan…
Dakwah itu, kita mengatakan.. 'aku cinta kamu'… bukan… 'aku benci kamu..'
Dakwah itu, kita mengatakan, 'Mari bersama kami…' bukan.. 'Kamu harus ikut kami...'
Dakwah itu, dapat di masjid, di sekolah, di pasar, di kantor, di parlemen, di jalanan, hingga di tempat kebanjiran…. Dakwah bukan hanya di pengajian….!
Dakwah itu, ……asyik dah ………
Dakwah itu, membina, bukan menghina…
Dakwah itu, mendidik, bukan 'mendelik'…
Dakwah itu, mengobati, bukan melukai
Dakwah itu, mengukuhkan, bukan meruntuhkan…
Dakwah itu, menguatkan, bukan melemahkan…
Dakwah itu, mengajak, bukan mengejek…
Dakwah itu, menyejukkan, bukan memojokkan..
Dakwah itu, mengajar, bukan menghajar....
Dakwah itu, belajar, bukan kurang ajar ..
Dakwah itu, menasehati, bukan mencaci maki…
Dakwah itu, merengkuh, bukan menuduh...
Dakwah itu, bersabar, bukan gusar…
Dakwah itu, argumentative, bukan provokatif..
Dakwah itu, bergerak cepat, bukan sibuk berdebat…
Dakwah itu, realistis, bukan fantastis
Dakwah itu, adu konsep di dunia nyata, bukan adu mulut dan olah kata.
Dakwah itu, mencerdaskan, bukan mencemarkan…
Dakwah itu, menawarkan solusi, bukan mengumbar janji...
Dakwah itu, berlomba dalam kebaikan, bukan berlomba saling menjatuhkan..
Dakwah itu, menghadapi masyarakat, bukan membelakangi masyarakat...
Dakwah itu, memperbarui masyarakat, bukan membuat masyarakat baru..
Dakwah itu, mengatasi keadaan, bukan meratapi kenyataan…
Dakwah itu, pandai memikat, bukan mahir mengumpat
Dakwah itu, menebar kebaikan, bukan mengorek kesalahan...
Dakwah itu, menutup aib dan memperbaikinya, bukan mengumpat aib dan menyebarkannya..
Dakwah itu, menghargai perbedaan, bukan memonopoli kebenaran..
Dakwah itu, apresiasi terhadap langkah positif, bukan mencari-cari motif….
Dakwah itu, mendukung semua proyek kebaikan, bukan memunculkan keraguan..
Dakwah itu, memberi senyum manis , bukan menjatuhkan vonis…
Dakwah itu, berletih-letih menanggung problema umat, bukan meletihkan umat…
Dakwah itu, menyatukan kekuatan, bukan memecah belah barisan..
Dakwah itu, kompak dalam perbedaan, bukan ribut atas nama persatuan…
Dakwah itu, menghadapi musuh, bukan mencari musuh…
Dakwah itu, mencari teman, bukan memusuhi teman…
Dakwah itu, melawan kesesatan, bukan berbicara menyesatkan…
Dakwah itu, menjulurkan tangan, bukan menjulurkan lidah…
Dakwah itu, asyik dengan kebersamaan, bukan bangga dengan kesendirian…
Dakwah itu, menampung semua lapisan, bukan mengkotak-kotakkan…
Dakwah itu, kita mengatakan.. 'aku cinta kamu'… bukan… 'aku benci kamu..'
Dakwah itu, kita mengatakan, 'Mari bersama kami…' bukan.. 'Kamu harus ikut kami...'
Dakwah itu, dapat di masjid, di sekolah, di pasar, di kantor, di parlemen, di jalanan, hingga di tempat kebanjiran…. Dakwah bukan hanya di pengajian….!
Dakwah itu, ……asyik dah ………
Mau ikutan?... Hayuu lah..!
Ust. Abdullah Haidir, Lc (Ketua MPW PKS Arab Saudi)
Riyadh, 1434 H
AKU
Aku,
Adalah hawa di padang gersang,
Yang merindui akan segarnya lautan ilmu
Yang mengagumi jernihnya pesona Illahi
Aku,
Sang pembelajar di Universitas Kehidupan
Mengikat setali, dua tali, bahkan berjuta-juta tali hikmah
Membungkusnya pada catatan-catatan sederhana
Aku,
Sang pengelana di dunia tarbiyah
Mencoba terus kutapaki tangga demi tangganya
meski terjal dan penuh onak duri
Allahu Ghoyayatunaa
Ar Rosuul Qudwatunaa
Al Qur'an Dustuurunaa
Al Jihadu Sabiilunaa
Al Mautu Fii sabiilillaah
Asma Amaniinaa
_______________________________________________________________
Tuhan telah menentukan takdir pada seseorang ini dengan nama lengkap Maya Nurmayanti, dengan menambah Umarro dibelakang namanya, merupakan sebuah kecintaannya terhadap sang almarhum ayahanda tercinyanya, H. Umar (Alm).
Katanya, ia sang pembelajar di universitas kehidupan. Ya, kehidupan yang telah membawa dan memberinya banyak pelajaran hidup. Tentang cinta, rindu, suka dan duka, bahagia dan rasa bersedih hati, lalu ia pun memcoba memahami dan terus belajar untuk meraih kata ‘ikhlash’ dalam kamus hidupnya.
Meskia ia tak sempurna, setiap senyum dan langkah kehidupannya menjadikan lentera harapan di jiwanya. Motivasi utamanya ialah Tuhan-nya (Allah swt).
Jika Allah tujuan inti, tak perlu bersedih hati. Jika Allah tujuan inti, tanamkan ikhlas di hati. Jika Allah tujuan inti, haram memaki takdir-Nya. Jika Allah tujuan inti, tak perlu risau dengan janji-Nya
Mencari, mendalami, memahami, lalu berusaha mengamalkan setiap tetes demi tetes ilmu yang menjadi penawar dahaganya.
Salam Cinta,
Maya N. Umarro
_______________________________________________________________
Mulai bergabung dengan Forum Lingkar Pena (FLP) Kuningan tahun 2010.
Belajar tentang dunia kepenulisan, karena dengan menulis, jejak kita kan terukir. Dengan menulis, kita bisa berbagi hikmah. Dengan menulis pun kita bisa berdakwah.
Berusaha untuk tetap semangat, meski bara itu kadang hampir padam. Menyulutnya dengan prinsip 'bermain congklak' (saling memberi dan saling menerima)
Mengarungi dan menyelami lautan ilmu.
Kuliah di Universitas Kuningan, jurusan Pendidikan Bahasa Inggris.
![]() |
LDK Al-kahfi Universitas Kuningan
Membuat hidup lebih bermakna.
Disini kami saling belajar, belajar sabar, belajar ikhlas, belajar arti sebuah pengorbanan, belajar mempertahankan kokohnya ukhuwah, belajar memperbaiki diri.
Karena hidup adalah belajar dan pembelajaran.
Fatamorgana Kesunyian
Label: Cerpen
Aku
tak hendak memahat kesakitan di ruang hati siapapun. Kata-kataku adalah
nyanyian semesta yang mengalun bersama irama hati, dan terkadang menjadi melodi
dalam kesunyian. Terserah saja orang menafsirkan setiap syair-syairku, termasuk
juga kau. Aku tak sakit hati saat kau bilang padaku,”berhentilah menggilai
kesunyian.” Komputer di kamar tempat aku
berimajinasi masih menyala, sedang belum satu puisipun kurangkai dengan
sempurna. Aku kembali tersenyum dengan mengulang-ulang membaca pesan di layar
Hpku.
Cerita Pada Bunda
Label: Curhat
Bunda…
Malam ini, biarkan aku bercerita tentang hatiku
Sejenak saja
Sambil menikmati alunan sholawat dikejauhan sana
Bersama detak jam yang tak henti menghitung waktu
Aku lontarkan tanya padamu
Apa salah jika aku jatuh cinta?
Seperti dingin yang meresap pada dinding kamar
Tanpa bisik, juga tanpa kompromi
Melubangi bilik hati yang hampir rapuh
Aku harus bagaimana, Bunda?
Menepisnya sekuat hati
Langganan:
Postingan (Atom)



















